YUK INTIP KESERUAN DI DESA SADE
Seusainya dari desa Sukarara, kamipun melanjutkan perjalanan menuju desa Sade yang terkenal dengan suku asli lombok yang masih sangat kental dengan adat dan budayanya, yap! salah satunya atraksi budaya Peresean.
Didesa ini tidak dipungut biaya jika teman-teman wisatawan ingin masuk dan mengenal lebih dekat dengan warga desa Sade ini.
| Anak-anak didesa Sade yang dengan hangat memberi sambutan |
Setibanya didesa ini kami disambut oleh pemandu lokal yang juga merupakan warga setempat, dan disambut dengan sapaan hangat dari adik-adik yang mayoritas adalah anak perempuan. Usianya bisa dibilang masih sangat muda. Karena didesa ini segala sesuatunya di kelola oleh warga setempat seperti kebersihannya, penerangannya, dan fasilitas penunjang wisata lainnya seperti toilet umum, rumah makan sederhana maupun sentra oleh-oleh kain tenun khas Lombok juga tersedia. Para pemandu disini tidak menyebutkan tarif tetapi teman-teman bisa membayar nya secara sukarela sebelum meninggalkan desa ini.
Sebelum memasuki area desa Sade ini kami sempat berbincang dengan Guide Local yang menemani kami, beliau menjelaskan banyak hal tentang rumah adat, pakaian yang dikenakan oleh warga desa, kebiasaan unik dan atraksi-atraksi yang akan berlangsung.
| Atraksi budaya Paresean |
| Atraksi budaya Peresean |
Paresean merupakan budaya atraksi lama yang mempertarungkan dua lelaki yang bersenjatakan rotan dan perisai yang masih ada sampai saat ini, tradisi ini dikenalkan oleh para leluhur atau tetua di suku ini dari mulai anak laki-laki berusia sangat belia.
Dalam kesenian ini para lelaki berkumpul untuk menguji keberanian dan ketangkasan mereka dalam bertarung, walaupun terdapat unsur kekerasan didalamnya, namun Peresean memiliki pesan damai. Setiap lelaki atau petarung yang ikut dalam pertunjukan tersebut dituntut memiliki jiwa pemberani, rendah hati, dan tidak memiliki sifat pendendam.
Petarung atau yang biasa disebut dengan Pepadu ini sama sekali tidak menggunakan alat pelindung apapun kecuali perisai atau tameng yang merupakan bagian dari senjata. Para pepadu ini hanya menggunakan ikat kepala sederhana, celana pendek, dan menggunakan kain penutup celana saja tanpa mengenakan pakaian.
Ada dua kali pertunjukan didesa ini, yaitu disaat laki-laki dewasa berkelahi selesai, akan dilanjutkan dengan pertarungan anak laki-laki yang masih berusia 5 - 7tahun, sangat menggemaskan sekali loh ketika anak-anak kecil ini menunjukan bakat mereka tanpa malu-malu didepan khalayak ramai hehehe
| Anak-anak yang sedang melakukan atraksi Paresean |
| Anak-anak yang sedang melakukan atraksi Paresean |
| Foto bersama anak-anak di desa Sade |
Hal menarik lainnya yang kami temui didesa ini adalah rumah-rumah warga yang beratap rendah dan lantai rumah yang terbuat dari kotoran sapi. Bukan hanya lantainya saja namun kotoran sapi juga digunakan sebagai pengganti semen untuk membangun dinding dan tangga. Khusus untuk lantainya, mereka menggunakan sekam padi dan tanah liat serta campuran kotoran sapi untuk membuat lantai. Hasilnya bisa dilihat jika masuk ke salah satu rumah di Desa Sade, terlihat jelas serat kasar pada lantai serta warna cokelat kehijauan. Untuk mengepel lantai agar kinclong juga menggunakan kotoran sapi loh.
Penggunaan kotoran sapi ini ternyata punya maksud tersendiri
lho guys. Konon kotoran sapi ini selain menginclongkan lantai juga membuat
nyamuk enggan mendekat, jadi semacam pengusir nyamuk alami gitu. Kalau malam
hari, kandungan kotoran sapi untuk material rumah ternyata bisa menghangatkan
suhu ruangan. Maklum Desa Sade terkenal dingin saat malam hari.
Penasaran kan dengan Desa Adat Suku Sasak di Lombok? Buruan
liburan ke sini, desa ini cukup mudah ditemukan kok karena terletak di tepi
jalan poros yang menghubungkan Kota Mataram dengan daerah di bagian selatan
Lombok. Jika teman-teman dari bandara Internasional Lombok, kampung ini bisa ditempuh
selama 25 menit aja menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil maupun bus.
Komentar
Posting Komentar